Gejala kanker serviks tergantung pada fase pertumbuhan. Pada fase dini (preinvasif) sering tidak menimbulkan gejala atau hanya sedikit sekali gejala, seperti keputihan. Pada fase invasif (lanjut) menyebabkan pendarahan vagina di luar masa haid, sakit dan pendarahan setelah bersenggama, rasa sakit pada daerah panggul, nafsu makan hilang, berat badan hilang, dan anemia karena pendarahan.
Penyebab kanker serviks belum diketahui secara pasti, namun diduga sekitar 95 % oleh sejenis virus Human Papilloma Virus (HPV), virus ini dapat menular melalui hubungan seksual. Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kanker serviks, yaitu:
- Sering berganti pasangan hubungan seksual. Semakin banyak seorang wanita melakukan hubungan seks dengan beberapa pria, maka ia semakin tinggi berisiko mengalami kanker leher rahim.
- Berhubungan seksual di usia muda, (berjubungan seks kurang dari 15 tahun). Artinya wanita yang berhubungan seks pertama kali pada saat usianya dibawah 15 tahun, maka memiliki risiko tinggi mengalami kanker leher rahim.
- Infeksi virus pada serviks Infeksi virus human papiloma. Virus ini melalui hubungan seksual.
Yaitu suatu kantong abnormal berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Kista ovarium biasanya tidak bersifat kanker, namun walaupun kista tersebut kecil diperlukan perhatian lebih lanjut untuk memastikan kista tersebut tidak berupa kanker.
Pemicu terjadinya kista pada perempuan, salah satunya adalah makanan berlemak. Ketidakseimbangan asupan lemak dapat meningkatkan kadar hormon testosteron dalam tubuh. Akibatnya, hormon estrogen dalam tubuh tidak bisa bekerja dengan baik. Inilah yang dapat memudahkan tumbuhnya kista, miom, dan lainnya (Utami Sri Rahayu). Ada lagi sumber yang lainnya yang dikemukakan oleh spesialis kandungan dan kebidanan dr Hardi Susanto dari RS Graha Medika Jakarta: Hingga saat ini, kista masih menjadi misteri dalam dunia kebidanan. Pasalnya, sampai sekarang belum diketahui secara pasti faktor-faktor penyebab tumbuhnya kista dalam tubuh seorang wanita. Karena itu, cara pencegahannya pun belum terungkap secara jelas. ''Tetapi dalam literatur ada yang menyebutkan penyebab kista ovarium karena gagalnya sel telur (folikel) berovulasi.'' Seperti diketahui, lanjut Hardi, dalam siklus reproduksinya, satu sel telur dalam ovarium wanita setiap bulan akan mengalami ovulasi. Yakni, keluarnya inti sel telur dari folikel untuk kemudian ditangkap serabut fimbria dan ditempatkan di saluran ovarium (tuba falopii), dan siap dibuahi jika bertemu sperma. Sedang folikel yang sudah kehilangan inti sel telur disebutcorpus luteum, secara normal akan mengalami degenerasi hilang diserap tubuh. Namun, adakalanya proses keluarnya inti sel telur dari dalam folikel gagal terjadi. Sel telur yang gagal berovulasi tersebut lama-kelamaan bisa berubah menjadi kista. Selain itu, dapat pula terjadi kegagalan penyerapan corpus luteum oleh tubuh. Hal ini pun berpotensi menyebabkan kista. Selain berasal dari kelainan pada sel telur (folikel), jelas Hardi, kista di ovarium juga bisa tumbuh begitu saja. Kista semacam itu disebut kista cokelat karena terdiri atas selaput berisi darah kental atau sering disebut endometriosis. |






0 komentar:
Poskan Komentar